Rabu, 16 Maret 2011

NARKOBA DENGAN SEGALA PENYESALANNYA (SEBUAH PENGAKUAN)


Gue malu masukin setan kedalam tulang gw sendiri, Gw nyesel masukin neraka kedalam badan gw sendiri (Taufiq Ismail, sastrawan)

Pengakuan Daksa

Sejak SD saya sudah menghisap ganja, sampai akhirnya saya menjadi ketergantungan putaw, heroin dan pil ecstasy, begitu parahnya ketergantungan saya terhadap barang-barang haram itu, sehingga mencuripun terpaksa saya lakukan sampai cincin kawin mamapun saya jual hanya untuk beberapa paket putaw.


Daksa, begitu nama panggilan saya, lahir di Jakarta 27 juli 1979 anak kedua dari tiga orang bersaudara. Secara ekonomi keluarga kami tergolong berkecukupan. Meski papa sehari-hari sibuk kerja, namun perhatian dan kasih sayangnya kepada anak-anaknya tidak kurang. Demikian juga mama sangat sayang kepada kami, bahkan kami terkesan dimanjakan. Tanpa sepengetahuan mama dan papa selama ini saya sudah ketergantungan narkoba seperti pil BK, rohipnol, ganja, heroin, dan pil ekstasi.

Barang barang haram ini pertama kali saya kenal sejak masih duduk di sekolah SD. Mula-mula hanya menghisap ganja. Saat itu umur saya 12 tahun. Mulanya sih coba-coba karena sering melihat teman yang lagi menghisap sehabis pulang sekolah. Awalnya ganja itu saya dapat secara gratis, namun selanjutnya saya beli sendiri. Saya masih ingat ketika pertama kali saya menghisapnya saya hanya merasakan pusing-pusing saja dan lapar.

Beberapa bulan kemudian saya mulai mengenal obat-obatan terlarang, seperti pil BK, rohipnol, artan, dan minuman keras. Setiap hari saya membeli obat-obatan ini dengan uang jajan. Kebetulan mama memberi uang jajan sebanyak Rp. 5000;- sedangkan pil BK satu papan Rp. 3000;-. Jadi setiap hari saya bisa membeli satu papan yang berisi 10 butir pil BK. Memang tidak saya makan sendiri, sebagian lagi saya berikan kepada teman-teman yang memang pemakai.

Sebelum masuk kelas saya sudah makan satu atau dua butir. Akibatnya, saya sering ditegur guru karena suka berantem dan sering tidur dikelas karena jam pelajaran. Selain itu saya terpaksa pindah sekolah karena terlalu sering bolos sekolah.

Dua tahun kemudian saya dipindahkan ke Bali. Di kota wisata ini lah saya mengenal putaw dan heroin. Satu tahun kemudian, saya sudah kembali ke jakarta. Terus terang saya tertarik sama putau karena melihat bentuknya yang serbuk putih, lalu keunikan cara memakainya yang memakai timah dan gulungan uang kertas. Pertama kali saya memakainya saya muntah-muntah, pusing rasanya tak enak sekali. Tapi teman-teman saya terus menyuruh saya memakainya.

Kala itu satu paket heroin Rp.20.000;- awalnya saya hanya memakai satu paket kecil saja tapi tak lama kemudian dosisnya meningkat. Satu paket tak cukup lagi untuk satu hari. Sehingga sedikitnya saya harus beli antara Rp. 100.000 sampai Rp.150.000;-.

Tentu saja uang jajan yang diberikan mama tak cukup lagi untuk membeli putaw dan heroin. Mulailah aku menjual satu persatu barang-barang yang ada dikamarku, mulai dari tape recorder, TV, VCD, dan barang–barang lainnya pokoknya bisa dijual cepat. Setelah barang-barang dikamar saya habis, saya mulai beralih kekamar mama. Satu persatu perhiasannya saya curi bahkan cincin kawinnya pun ikut saya lego hanya untuk beberapa paket putaw. Anehnya papa dan mama tidak pernah menaruh curiga pada saya. Padahal kalau papa dan mama jeli seharusnya mereka curiga melihat kondisi saya yang semakin kurus, kumal dan suka menyendiri di kamar. Belum lagi prestasi sekolah yang menurun.

Kian hari ketergantungan saya akan putaw dan heroin makin parah , apabila telat mamakainya badan saya terasa sakit, perut kejang-kejang, badan menggigil, rasanya sakit setengah mati. Jika mengalami itu rasanya lebih baik memilih mati saja. Mula-mula saya tidak mengerti kalau saat itu saya sedag sakaw. Tetapi setelah suntik putaw rasa sakit tadi sekejap saja menghilang. Badan pun terasa segar kembali.

Suatu hari di tahun 1996 saya sempat overdosis (OD) karena terlalu banyak memekai putaw dan tak sadar selama lima hari. Saya dilarikan kerumah sakit Cinere. Baru setelah sadar saya berterus terang kepada mama bahwa selama ini saya telah ketergantungan narkoba. Atas permintaan saya pula setelah dari Rumah Sakit Cinere saya melanjutkan pengobatan ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO).

Setelah keluar dari RSKO saya sempat tidak memakainya. Namun hal itu tidak lama, kebiasaan saya memakai putaw kambuh lagi dan beberapa kali OD. Yang terakhir tepat pada ulang tahun saya yang ke-17. Sempat terlintas dalam pikiran saya untuk bunuh diri.

Pada akhir tahun 1998 saya berobat ke Malaysia. Tahun 1998 saya kembali ke Jakarta sudah keadaan sembuh. Tidak lagi ketergantungan barang-barag haram itu. Berkat kesabaran dan dorongan moral dari mama dan seluruh keluarga akhirnya saya benar-benar terbebas dari ketergantungan narkoba. Kini sudah 5 tahun saya tidak menyentuh barang laknat itu, dan saya sudah bertekat tidak akan mencobanya lagi apapun jenisnya.

Pengalaman pahit ini sengaja saya ceritakan, dengan harapan agar tidak ada lagi korban-korban yang jatuh seperti saya. Memakai narkoba apapun jenisnya sama dengan bunuh diri secara perlahan-lahan.

Tidak ada komentar: